Harga 1 Simit

Dengan penuh paksaan aku bangunkan Hilal. Gadis yang satu ini memang ahlinya dalam hal tidur. Ngakunya menyesal kalau tidur terlalu lama, membuat dia telat bangun dan akhirnya gak bisa masuk kelas, karena saat dia baru bangun kelas telah selesai. Tapi dasar Ratu Tidur, lagi-lagi begitu dan begitu seterusnya. Pernah sekali-kali dia bangun awal waktu. Betapa girangnya dia dan merasa sukses melawan rasa kantuknya.

Hari itu tepat pukul 07.30 aku bangunkan dia karena dia berjanji akan menemaniku jalan-jalan ke taman untuk bermain di atas pasir putih bernama salju, juga memenuhi pesan bapak untuk menuliskan nama keluarga di atas salju. Aku paksa Hilal, aku kucek-kucek wajahnya, ku tarik-tarik selimutnya, akhirnya dia pun bangun. Kita pun bersiap-siap dengan segala keperluan musim dingin. Tak lupa memakai sarung tangan karena cuaca di luar sangat dingin. Keluar dari apartment, benar sekali cuaca sangat dingin meski hari itu matahari muncul dan sinarnya membuat kehidupan kota ini kembali, setelah 3 hari kemarin berturut-turut badai salju mengguyur kota yang pernah diduduki oleh Imperium Romawi ini. Kita berjalan menelusuri toko-toko yang baru saja buka, para pedagang yang baru saja menjajakan dagangannya nampak sibuk. Jalanan trotoar masih penuh dengan tumpukan salju yang sudah membeku. Sampai di Buyuk Cami, kita mencari-cari celah untuk dapat menemukan salju yang masih lembut dan belum membeku untuk dapat dicoret-coret. Tepat di depan masjid, kita berhenti di sana. Menemukan tempat kecil yang masih bersalju dan masih bisa dipakai untuk dicoret-coret. Tapi jalanan sangat licin dan kitapun nyaris terjatuh. Orang-orang yang berlalu lalang pun amat kesulitan karena harus mengahadapi es-es yang perlahan mencair hingga jalanan licin. Saat asyik menuliskan kata-kata di atas benda putih itu, ada seorang ibu sedang menggendong anaknya yang masih kecil, melewati jalan licin yang digenangi cairan es yang membeku sisa tadi malam.



“Fatma, lihat ibu yang sedang menggendong anak itu, aku khawatir mereka akan terjatuh karena jalan begitu licin.” Seru Hilal dengan nada cemas, melihat ibu itu yang berjalan tersendat karena tumpukan es. “Ayo kita bantu ibu itu Hilal.” Seru ku sambil menuju arah ibu itu berjalan. Kita pun pergi dan membantu ibu itu untuk melewati jalan lain yang tidak licin agar ibu itu tidak kesulitan. Setelah itu, kita kembali ke tempat tadi, tempat dimana kita menuliskan semua permintaan keluarga ku yang ingin menuliskan nama di atas salju. Bagi orang yang hidup di negeri 4 musim mungkin bertemu dengan salju sudah biasa, namun bagi para perantau asia, bertemu dengan benda putih ini adalah suatu momen indah tersendiri dan tidak jarang keluarga atau teman-teman sering kali meminta permintaan untuk dituliskan namanya di atas salju. Sempat berfikir, bagaimana jika salju berwarna ungu, biru, pink, atau merah, pastinya tak akan seindah ini. Ternyata Allah Maha Mengerti apa yang disukai hamba-Nya. Dan pastinya akan selalu begitu. Menikmati salju ini tidak sah jika belum pergi ke taman. Benar sekali di taman Opera ini terhampar luas karpet putih. Perlahan ku ambil segumpal salju di tangan. Tepat mengenai muka Hilal ku lemparkan segumpal salju itu. Dia pun tak mau kalah dan membalas melempar salju ke arahku. Saling melemparlah kita dan tak lupa mengabadikannya dengan jeprat-jepret di kamera yang memorinya terbatas itu. Lalu kita berjalan ke arah pinggir laut. Ternyata kita mempunyai kemistri yang sama ketika membahas soal laut. Kita sama-sama menyukai laut. Menghirup khas aromanya, melihat bentangan samudranya, dan menyaksikan gagahnya sang gelombang. Dan suhu dingin ketika itu amatlah menusuk tulang. Namun, hal itu tidak mengalahkan semangat kita untuk berjalan-jalan di pagi hari yang indah ini. Hilal mengajakku pergi ke Simit Centre. Tiba di sana kita membeli makanan-makanan kecil dan segelas teh turki metode sarapan ala Turki. Dan teh menjadi minuman wajib di Turki di setiap makanan. Ketika makanan pun habis, saat kita memutuskan untuk pulang, datanglah seorang kakek bertongkat yang nampak kelelahan. Dengan susah payah dia harus menaiki tangga menuju lantai 2. “Menurutmu apa kita membantu membawakan sesuatu untuk kakek itu?” tanya Hilal (karena di Simit Centre kita membawa sendiri makanan yang akan kita makan baru setelah itu kita bisa memilih tempat) “Tentu. Kita harus bantu dia.” Kataku. “Kakek perlu bantuan? butuh sesuatu?” tanya Hilal. “Uang buat naik bis kakek habis nak. Kakek membutuhkan uang.” Katanya. Akhirnya kita sepakat mengumpulkan uang. Tak seberapa memang uang yang kita kumpulkan, hanya cukup untuk membayar sekali atau dua kali bis saja yang kita berikan kepada kakek itu dan bergegas pulang. Sampai di tangga entah apa yang mendorongku tiba-tiba aku ingin lebih lagi membantu si kakek. “Apakah kita bawakan teh buat kakek itu?” kataku. “Boleh saja” sahut Hilal. Kita langsung saja mengumpulkan beberapa uang kurus kita. Hanya ada 50 kurus di sakuku. Dengan seadanya akhirnya kita membelikan teh dengan uangnya Hilal karena uang kurus kita tidak cukup untuk membeli teh yang harganya 1,5 TL. Namun, teh saja rasanya tidak cukup menurutku. Mengingat di tanganku sekarang ada kurus-kurus yang terkumpul tadi (50 kurus dariku dan 50 kurus lagi dari Hilal) “Teh saja tak cukup Hilal, kita beli sesuatu lagi untuk di makan kakek itu.” Ucapku “Oh gitu? Oke kalo gitu kita belikan 1 simit untuk kakek itu.” Katanya. Akhirnya uang kurus itu kita belikan untuk 1 simit. Setelah itu kita pergi ke lantai atas lagi menuju ke meja si kakek. “Kek ini silahkan dimakan.” Ucap kita padanya. “Yavrum, terimakasih banyak. Maaf aku jadi merepotkan kalian.” Kata si kakek. “Oh jangan berbicara seperti itu itu kek, tidak merepotkan sama sekali.” Akhirnya kita pergi. Ketika di jalan aku berucap pada Hilal. “Hilal! Hari ini aku senang sekali.” “Iya aku juga senang sekali. Jalan-jalan kita yang menyenangkan dan juga kita yang bisa berbagi kepada orang lain. Aku sangat senang karena ini.” “Betul sekali. Aku juga senang ketika kita membantu orang, bisa saling berbagi.” Sahutku.

Hari itu benar-benar menjadi yang menyenangkan untukku dan untuk Hilal. Dapat saling berbagi adalah hal terindah dalam hidup ini selagi kita mampu. Mengeluh dengan apa yang kita punya tidak akan memberi keuntungan pada diri kita. Sudah waktunya kita bersyukur dan selagi kita masih bisa berbagi, bagikanlah.

Keesokkan harinya, tiba-tiba hp ku berbunyi ada telfon dari Zeynep Abla. Abla yang selama ini memberi uang saku bulanan ke padaku. Dia memintaku untuk pergi ke rumahnya untuk memberi uang saku bulan Desember. Aku pun bersiap-siap dan pergi ke rumah abla. Tiba di rumah Zeynep Abla (meski sempat salah masuk apartment sebelumnya), dia memberi ku amplop berisi uang saku bulan ini dan aku  pun menandatangani tanda aku telah mengambil uang saku bulan ini. Aku pun pamit untuk pulang, ketika aku membuka isinya aku kaget dan bercampur senang dan berucap dengan penuh syukur. Uang saku bulan ini lebih 50 TL dari yang biasanya. Tak hentinya aku bersyukur. Dan tiba-tiba aku mengingat 50 kurus yang aku berikan untuk membeli simit untuk seorang kakek hari kemarin itu. MasyaAllah aku pun merasa sangat bahagia dan penuh syukur tak berhenti memuji kebesaran-Nya. Bukan karena mendapat 50 TL nya yang membuatku bahagia tapi atas kebesaran Allah lah yang membuatku bahagia. Benar Allah akan membayar segala perbuatan yang kita kerjakan. Kebaikan sekecil apapun Allah akan berikan pembalasannya berkali-kali lipat. 1 yang kita kerjakan Allah memberinya 10, 100, bahkan 1000. Jika tidak di dunia, di akhirat kelak balasan itu telah menunggu kita. Turki, di setiap langkahku ini banyak pelajaran-pelajaran hidup yang ku dapatkan. Kaki-kaki ini menjadi saksi setiap perjalananku.

Mia Siti Nurazizah
Mahasiswa Indonesia Jurusan Ilahiyat
di Samsun, Turki

0 komentar :